Skip ke Konten

Perempuan Melawan: Menolak Diam di Tengah Zaman yang Berisik

Oleh Nurul Ainun (Kader PMII Rayon Tarbiyah Komisariat IAIN Parepare)
20 Desember 2025 oleh
PMII Parepare

Zaman ini berisik. Media sosial penuh suara, ruang publik dipenuhi opini, dan layar tak pernah benar-benar sunyi. Namun, di tengah kebisingan itu, ada satu ironi yang terus berulang: suara perempuan kerap tenggelam. Banyak yang bicara tentang perempuan, tapi sedikit yang sungguh mendengarkan perempuan. Maka, ketika perempuan memilih melawan, itu bukan sekedar perlawanan terhadap ketidakadilan, melainkan penolakan tegas untuk terus diam di tengah zaman yang gemar berteriak, tapi malas memahami.


Sejak lama, perempuan diajarkan untuk sabar, tunduk, dan memahami keadaan. Diam sering kali dibungkus sebagai kebajikan. Ketika perempuan bicara, ia dicap terlalu emosional; ketika ia melawan, ia dianggap tidak tahu diri. Standar ganda ini hidup subur, bahkan di era modern yang mengaku progresif. Modern ternyata tidak selalu berarti keadilan sering kali ia hanya mengganti wajah penindasan dengan bahasa yang lebih halus.


Perlawanan perempuan hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk demonstrasi atau teriakan di jalanan. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang berani: memilih sekolah meski diremehkan, bekerja meski direduksi, bersuara meski diancam stigma. Melawan juga berarti mengatakan “tidak” pada relasi yang menyakitkan, pada budaya yang merendahkan, dan pada sistem yang menganggap tubuh perempuan sebagai milik bersama.


Di era digital, perempuan dihadapkan pada medan baru perlawanan. Dunia maya membuka ruang berekspresi, tetapi sekaligus menjadi ladang kekerasan baru: ujaran kebencian, pelecehan, dan penghakiman moral. Banyak perempuan dipaksa kembali ke sunyi karena takut diserang. Namun justru di ruang inilah keberanian diuji. Setiap tulisan yang jujur, setiap kesaksian yang diungkap, adalah bentuk perlawanan terhadap budaya membungkam.


Perempuan melawan bukan untuk menjadi lebih tinggi dari laki-laki, melainkan untuk berdiri sejajar sebagai manusia. Perlawanan ini bukan tentang membenci, tetapi tentang menuntut adil. Bukan tentang meniadakan tradisi, melainkan mengkritisi tradisi yang melanggengkan ketimpangan. Sebab tidak semua yang diwariskan patut dipertahankan, dan tidak semua yang lama harus terus dimuliakan.


Zaman yang berisik sering kali lebih suka sensasi daripada substansi. Suara perempuan kerap dipelintir, disederhanakan, bahkan dijadikan komoditas. Karena itu, melawan juga berarti menjaga makna: berbicara dengan kesadaran, bergerak dengan tujuan, dan menolak dikendalikan oleh keramaian semu. Perempuan berhak menentukan narasi tentang dirinya sendiri, tanpa harus meminta izin.


Pada akhirnya, perempuan yang melawan adalah perempuan yang memilih hidup secara utuh. Ia tidak menunggu diselamatkan, tidak pula ingin dikasihani. Ia hanya menuntut ruang yang adil untuk bernapas, bersuara, dan menjadi manusia seutuhnya. Di tengah zaman yang berisik, keberanian terbesar perempuan adalah tetap bersuara—bukan untuk menambah kebisingan, tetapi untuk menghadirkan kebenaran.

di dalam Opini
PMII Parepare 20 Desember 2025
Share post ini
Label
Blog-blog kami
Arsip