Skip ke Konten

Ketika Logika dan Empati Bertemu di Tangan Perempuan

oleh Intan Nuraini (Kader Kopri Rayon FAKSHI IAIN Parepare)
24 Desember 2025 oleh
PMII Parepare

Perasaan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepekaan yang justru dibutuhkan dalam organisasi yang di dalamnya terdapat beragam latar belakang, karakter, dan persoalan manusia.

Dalam praktik berorganisasi, logika memang menjadi dasar dalam menyusun program, mengelola sistem, dan mengambil keputusan strategis. Akan tetapi, organisasi tidak hanya berjalan di atas perencanaan dan target, melainkan juga relasi antarmanusia. Tanpa perasaan, seorang pemimpin atau pengurus akan sulit memahami kondisi anggota, mendengar keluhan yang tidak terucap, serta merasakan beban yang dipikul oleh mereka yang berada di belakang atau di bawah tanggung jawabnya.


Perempuan memiliki kemampuan untuk menggunakan logika secara rasional dan kritis. Menariknyaa  kelebihan lain yang dimiliki perempuan bukan hanya perihal menghadirkan karya melalui logika, lebih dari itu, perempuan mampu memadukan logika dan perasaan sehingga menciptakan karya, ruang tumbuh, dan kekuatan dalam ruang lingkupnya-bahkan bagi semua kalangan. Logika tanpa perasaan berpotensi melahirkan kebijakan yang kaku dan elitis, sementara perasaan tanpa logika dapat membuat organisasi kehilangan arah dan tujuan.


Dalam banyak organisasi, kehadiran perempuan membawa warna tersendiri. Perempuan mampu menciptakan ruang yang lebih inklusif, menjaga komunikasi tetap sehat, serta membangun solidaritas di tengah perbedaan. Hal ini bukan berarti perempuan selalu benar atau lebih unggul, melainkan menunjukkan bahwa perspektif perempuan memberikan keseimbangan yang dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan.


Potensi perempuan dalam organisasi hari ini semakin terbuka. Perempuan tidak lagi hanya ditempatkan sebagai pelengkap, tetapi sebagai penggerak, pengambil keputusan, dan pemimpin. Ketika perempuan diberi ruang yang setara untuk berpikir, berbicara, dan memimpin, organisasi akan tumbuh lebih dewasa dan berdaya.


Pada akhirnya, ketika perempuan berlogika dan mengelola perasaannya dengan bijak, mereka menunjukkan kepemimpinan yang utuh. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menghargai nalar sekaligus empati, sebab keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya diukur dari pencapaian program, tetapi juga dari cara ia memanusiakan anggotanya.

di dalam Opini
PMII Parepare 24 Desember 2025
Share post ini
Label
Blog-blog kami
Arsip